Ada baiknya kita mengetahui definisi dakwah. Nah, kata dakwah adalah
derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti
memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya (alias pelaku) adalah
da’i yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’i sebagai orang yang memangggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya.
Itu secara bahasa, bagaimana secara istilah (syar’i)? Secara istilah,
dakwah berarti ajakan kepada orang lain, baik dengan perkataan maupun
perbuatan, kepada kebaikan (al-khair), menyuruh orang lain untuk
mengerjakan hal-hal yang berpahala (al-ma’ruf), serta mencegah orang
lain untuk melakukan hal-hal yang berdosa (al-munkar). Hal ini sesuai
dengan firman Allah Swt. (yang artinya) “Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang
perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada
jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark
seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek terhadap dakwah berarti
bukan mukmin sejati. Sebaliknya, Allah Ta’ala memuji aktivitas mulia
ini dalam firmanNya:”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan
berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Nah, karena dakwah harus menyeru kepada yang ma’ruf sekaligus
mencegah orang berbuat munkar, atau mengingatkan orang ketika berbuat
munkar, maka sudah pasti benturannya juga kuat. Ingat ya, bagaimana
beratnya dakwah Rasulullah saw. di Makkah. Jika Anda sempat membaca
Sirah Nabawiyah, akan tahu dimana pahit getirnya Rasulullah saw. dan
para sahabat ketika mengajak masyarakat Quraisy untuk meninggalkan
kekufuran dan mengganti keimanan mereka dengan Islam. Dakwah Islam yang
disampaikan oleh Rasulullah saw. tak memaksa orang untuk masuk Islam,
tetapi dengan cara berdialog, mengajak berpikir dan akhirnya mereka yang
masuk Islam adalah orang-orang yang sudah rela karena kesadarannya,
bukan terpaksa.
Meskipun Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan dakwahnya tanpa
kekerasan, tetapi perlawanan dari kaum Quraisy adalah dengan kekerasan.
Beberapa sahabat Rasulullah saw. disiksa dan dan bahkan dibunuh oleh
pembesar Quraisy agar masuk kembali ke ajaran nenek moyangnya. Bahkan
Rasulullah saw. sendiri pernah diminta menghentikan dakwah oleh Abu
Jahal dan para begundalnya melalui lisan Abu Thalib, pamannya. Tetapi,
apa jawaban Rasulullah saw.?
Rasulullah saw. berkata kepada pamannya: “(Paman), demi Allah,
seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di
tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan
meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur
karenanya.”
Semoga kita bisa meneladani beliau dalam dakwah menyeru kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar. Insya Allah kita bisa.
Tetapi kalo kita lihat kondisi sekarang, dakwah ternyata tak lebih
dari sekadar hiburan, bahkan ditempelkan ke dalam acara-acara yang
sejatinya tak islami. Kesempatan para mubaligh di layar kaca untuk nahi
munkar nyaris tipis, atau bahkan sudah tidak mungkin lagi. Selain itu,
ketika dakwah dicampur dengan hiburan, sejak saat itu dakwah sudah
kehilangan tujuan utamanya untuk menyeru agar manusia berbuat baik dan
tidak melakukan kemunkaran. Ironi yang entah sampai kapan bisa berakhir.
Salam,
O. Solihin
O. Solihin
http://mediaislamnet.com/2013/07/dakwah-bukanlah-hiburan/